Yuk Lawan Trauma di Masa Kecil Dengan Mengenal ‘Inner Child’!


Image Source: Wix

Hampir setiap orang pernah mengalami luka batin ataupun trauma di masa kecil. Bahkan tanpa sadar, hal ini bisa berpengaruh ke diri kita sampai dewasa lho!


Pernah dengar istilah ‘Inner Child’? Secara psikologi, ‘Inner Child’ adalah bagian dari diri manusia yang gak ikut tumbuh dewasa dan tetap ada disisi anak-anak berapapun usianya. Inner Child ini bakal selalu ada didiri kita dan menunggu trigger untuk mucul dan menyebabkan suatu gejala. Buat lo yang punya kenangan sewaktu kecil, entah pengalaman bahagia atau buruk, Inner child bakal selalu jadi bagian di diri lo.


Menurut Psikolog klinis Reynitta Poerwito Bach. of Psych., M. Psi., Inner Child adalah bagian dari diri manusia yang tetap seperti anak-anak secara emosional dan psikologi. Ibu Reynitta mengatakan, Inner Child yang gak terpenuhi bakal menjadi pengalaman buruk yang berpotensi menimbulkan trauma hingga dewasa nih guys. Saat dewasa, trauma ini bisa muncul kapan aja dengan gejala yang bisa diidentifikasi karena bakal memengaruhi fungsi tubuh.


Ada 3 tanda umum nih ketika seseorang ngerasain lagi trauma masa kecilnya. Apa aja sih?

1. Emosi

Ketika lo merasakan lagi trauma di masa lalu, secara gak sadar lo bakal mengalami gejala emosional, seperti menangis atau marah karena alasan yang gak jelas.


2. Perilaku

Inner Child yang hadir dengan ingatan menyakitkan secara tiba-tiba, orang itu bisa mendadak malas beraktivitas dan ngerasa gak berenergi.


3. Kognitif (pola pikir)

Ketika lo teringat dengan trauma di masa lalu, hal ini bakal memengaruhi konsentrasi dan fokus lo. Gejala yang dirasakan biasanya merasa kalau diri lo gak berguna, berpikiran negatif, bahkan sampai putus asa.


Nah, menurut Susan Anderson penulis buku ‘The Journey from Abandonment to Healing’, sebenarnya diri kita melalui 3 tahapan, yaitu:

1. Wounded inner child

Respon terhadap luka yang terabaikan, yang berakibat kita berkeyakinan kalau kita gak berhak buat bahagia, takut ditinggalkan, gak punya rasa cinta ke diri sendiri, people pleaser, butuh pengakuan dari orang lain, atau mencari kepuasan secara instan.


2. Outer child

Bentuk pembelaan diri yang merugikan karena melindungi Inner Child-nya yang terluka. Misalnya lo jadi lebih defensif, marah yang gak wajar (alter child), kehilangan kendali, menjauh dari hal yang mengakibatkan luka misalnya jatuh cinta.


3. Integrated adult

Ketika lo udah mengenali inner child dan outer child ada kemungkinan lo bisa jadi orang dewasa yang sehat. Inner child bukan lagi soal yang terluka tapi yang menyenangkan.

Ditahap ini, lo harus bisa membedakan reaksi yang ditimbul dari luka batin atau lingkungan. Jangan pernah jadikan luka ataupun trauma lo, sebuah alasan buat membenarkan perilaku lo.


Terus gimana sih cara mengatasi Inner Child ini?

1. Pergi ke profesional

Coba deh berkonsultasi dengan ahlinya! Mungkin dengan pergi ke psikolog, lo bisa menemukan jawaban dari masalah lo.


2. Berkontemplasi bercakap dengan diri kita yang masih kecil

Setelah luka batin teridentifikasi, kita perlu balik lagi ke masa itu. Masa di mana kita mengalami trauma, coba deh berbicara dengan diri lo disaat itu. Dengan mengatakan hal yang perlu lo dengar di masa itu.


3. Terapi

Mulai rutin sisipkan waktu lo buat self-healing. Misalnya dengan proses journaling, art therapy, seperti menggambar/melukis, dan membaca buku self-healing. Hal ini ternyata ngebantu kita menyadari banyak pola perilaku dari trauma di masa kecil.


Trauma ini, memang butuh waktu untuk sembuh. Bahkan harus melewati waktu lama hingga bisa terbebas dari pola yang selama ini ada di diri kita. Jadi, jangan takut ya untuk sharing-sharing ke teman ataupun konsultasi dengan ahlinya!





Writer: Carissa Setyowatie - Selasa, 5 Oktober 2021 16.43 WIB