Ternyata, Tekanan Ekonomi Selama Pandemi Bisa Akibatkan Masalah Kesehatan Jiwa!


Image Source: Unsplash

Pandemi Covid-19 emang berhasil mempengaruhi berbagai aspek kehidupan kita, khususnya dalam faktor perekonomian. Mulai dari kehilangan pekerjaan, pemotongan upah, kesulitan mendapat pekerjaan, dan ketidakpastian lainnya. Tapi tau gak sih lo, ternyata masalah perekonomian yang dialami saat pandemi ini menyebabkan masalah kesehatan jiwa lho!


Menurut Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, dalam peringatan Hari Kesehatan Jiwa se-Dunia (10/10), banyak masyarakat Indonesia yang saat ini mengalami gangguan jiwa. Seperti depresi, anxiety, bahkan yang lebih parah seperti skizofrenia. Ditambah saat ini, sulitnya masyarakat buat memperoleh perawatan.


Ditambah lagi, menurut Direktur Pusat Psikologi Terapan Universitas Katolik Soegijapranata Semarang, Kristiana Haryanti mengatakan, walaupun gak tahu data pastinya jumlah masyarakat yang konseling saat lonjakan kasus Covid-19 pasca Lebaran 2021 lalu meningkat nih guys. Kebanyakan warga berkonsultasi seputar rasa paranoid takut tertular Covid-19 saat keluar rumah, kehilangan anggota keluarga, sampai kehilangan pekerjaan karena terkena pemutusan hubungan kerja (PHK).


Ibu Kristiana menjelaskan, tingkatan awal dari gangguan kesehatan mental adalah rasa cemas yang berlebihan. Dari muculnya rasa cemas yang berlebihan, kemudian bakal berkembang menjadi stres. Jika seseorang merasakan stres berlebih, akan memicu depresi. Jika lo mengalami depresi, berarti lo perlu bantuan konsultasi dari psikiater.


Psikiater yang juga President Federation of Asian Oceanian Neuroscience Societies (FAONS) Adhi Wibowo Nurhidayat mengatakan, tekanan yang dihadapi selama masa pandemi bisa memicu terjadinya gangguan kesehatan jiwa. Banyak riset yang memprediksi bakal ada lonjakan kasus gangguan jiwa dalam beberapa tahun ke depan.


Dari hasil swaperiksa Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia, selama lima bulan pandemi Covid-19 di Indonesia menunjukkan, dari 4.010 pengguna swaperiksa terdapat 64,8 persen pengguna yang mengalami masalah psikologis. Sebanyak 65 persen mengalami cemas, 62 persen mengalami depresi, dan 75 persen mengalami trauma lho guys.


Masalah psikologis terbanyak ditemukan dikelompok usia 17-29 tahun dan usia lebih dari 60 tahun. Bahkan nih guys, satu dari lima orang punya pemikiran lebih baik mati. Sampai 15 persen pengguna memikirkan lebih baik mati setiap hari dan 20 persen memikirkan hal ini beberapa hari dalam seminggu.


Masalah kesehatan jiwa yang diakibatkan dari masalah ekonomi ini gak cuma dari kelompok ekonomi menengah ke bawah aja lho. Tapi hal ini juga dialami masyarakat dengan kelas ekonomi menengah ke atas.


Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memprediksi, depresi bakal jadi penyakit dengan jumlah yang paling banyak dialami masyarakat di 2030 mendatang lho guys. Depresi perlu jadi perhatian serius, karena beban yang diakibatkan bisa berdampak lebih besar dari penyakit lainnya lho. Seperti penyakit paru kronis, gangguan jantung iskemik, diabetes, hingga stroke.





Writer: Carissa Setyowatie - Senin, 11 Oktober 2021 11.26 WIB