Pahami Cancel Culture Yang Lagi Ramai Jadi Perbincangan


Image Source: Folkative

Beberapa tahun terakhir, lagi booming banget nih gagasan kalau seseorang bisa "di-cancel" lho! Atau dengan kata lain, seseorang dihalangi buat bisa punya karier menonjol. Nah, munculnya ‘Cancel Culture’ atau ide buat membatalkan seseorang ini biasanya terjadi dengan orang yang udah dikenal atau public figure.


Misalnya, selebritas atau tokoh masyarakat melakukan atau mengatakan sesuatu yang menyinggung masyarakat. Kemudian biasanya bakal muncul reaksi publik, buat meng-cancel orang tersebut buat mengakhiri karier. Hal ini biasanya dilakukan dengan cara boikot terhadap pekerjaan mereka atau tindakan disipliner.


Nah, di Indonesia sendiri ‘Cancel Culture’ sendiri udah mulai sering dilakukan nih guys. Mulai dari kasus Gofar Hilman sampai yang terbaru ada kasus dari selebgram Rachel Vennya dan K-aktor Kim Seon Ho.



Tapi apa sih sebenernya Cancel Culture ini?


Menurut peneliti komunikasi sosial dan budaya Universitas Indonesia, Devie Rahmawati, cara yang dilakukan dari Cancel Culture ini adalah dengan cara memotret, mempertontonkan, melabel dan mempermalukan orang tersebut di hadapan publik, dengan media sosial sebagai mediumnya. Peneliti media sosial dari Drone Emprit, Ismail Fahmi menjelaskan dengan adanya media sosial sekarang ini, fenomena Cancel Culture jadi mudah disebarluaskan.


Psikolog sekaligus tenaga pendidik di Universitas Gadjah Mada, Koentjoro mengatakan kalau Cancel Culture sama aja dengan boikot nih guys. Publik figur atau orang yang punya pengaruh bisa aja tiba-tiba di-cancel atau ditolak karena dianggap gak lagi sejalan dengan keinginan masyarakat. Cancel Culture biasanya dilakukan lewat media sosial, twitter atau dengan mengajukan petisi.


Tapi tau gak sih lo, ternyata budaya Cancel Culture ini bisa jadi toxic lho guys! Karena menurut Koentjoro, budaya ini bisa berkembang jadi perilaku main hakim sendiri yang dilakukan orang dengan cara berkelompok di media sosial. Bullying di media sosial ini punya dampak yang bisa merusak mental seseorang. Bahkan buat orang-orang yang di-cancel, mereka bisa merasa gak berguna, down, bahkan paling fatal bisa bunuh diri.


Ditambah lagi, Cancel Culture yang biasanya dilakukan lewat media sosial ini bakal menyisakan jejak digital yang gak mudah buat dilupakan seseorang. Menurut Koentjoro, cancel culture punya dampak negatif yaitu bisa merusak kebebasan berbicara.


Jadi nih guys, walaupun sebenarnya budaya Cancel Culture ini ada sisi pro dan kontranya, kita sebagai netizen yang bijaksana jangan sampai bikin mental seseorang yang di-cancel jadi terganggu. Walaupun orang itu melakukan kesalahan, kita juga harus bisa jadi seseorang yang bertanggung jawab dalam bermedia sosial.




Writer: Carissa Setyowatie - Senin, 1 November 2021 12.39 WIB