Buat Lo Yang Lelah Selalu Berpura-pura Bahagia!


Image Source: Unsplash

Pernah gak sih lo beranggapan kalau terlihat bahagia itu penting? Dengan memperlihatkan kebahagian lo didepan khalayak banyak berarti hidup lo sempurna. Lo beranggapan kalau kebahagiaan dan penderitaan ada di dua kutub yang saling berseberangan.


Sehingga mendorong kita buat selalu mengejar dan mencari hal-hal yang menurut lo membahagiakan. Hal ini bikin lo selalu memperlihatkan kebahagiaan lo dan menyembunyikan kesedihan lo dibalik layar.


Disaat-saat seperti ini, pasti lo pernah berpikir “Apa sih arti bahagia?”, “Apakah gue sekarang udah bahagia?”, dan “apa yang membuat gue bahagia?”.


Kalau lo lagi ngalamin hal ini, bisa jadi lo lagi ngalamin yang namanya Duck Syndrome.

“Apa sih arti bahagia?”, “Apakah gue sekarang udah bahagia?”, dan “apa yang membuat gue bahagia?”.

Apa sih Duck Syndrome itu?

Image Source: Unsplash

Stanford University, Amerika Serikat, menganalogikan fenomena ini seperti bebek yang berenang seolah sangat tenang, tetapi kakinya berjuang keras buat bergerak agar tubuhnya tetap bisa berada di atas permukaan air.


Hal ini dikaitkan pada kondisi di mana seseorang yang terlihat tenang dan baik-baik saja, tetapi dirinya lagi ngalamin banyak tekanan dan kepanikan dalam mencapai tuntutan hidupnya.


Menurut medicinenet.com, Duck Syndrome ini gak resmi diakui sebagai penyakit mental. Ini lebih mengacu pada fenomena yang digunakan untuk mendeskripsikan individu yang beranjak dewasa dan para young adult.

Hal ini dikaitkan pada kondisi di mana seseorang yang terlihat tenang dan baik-baik saja, tetapi dirinya lagi ngalamin banyak tekanan dan kepanikan dalam mencapai tuntutan hidupnya.

Terus apa sih penyebab dan gejala dari Duck Syndrome ini?


Biasanya, orang yang mengalami duck syndrome berisiko akan mengalami masalah kejiwaan tertentu, seperti gangguan cemas dan depresi. Ada beberapa faktor yang bisa men-trigger seseorang mengalami duck syndrome, yaitu:


  • Tuntutan akademik

  • Ekspektasi yang terlalu tinggi dari keluarga dan teman

  • Pola asuh helikopter

  • Pengaruh media sosial, misalnya terbuai ide bahwa kehidupan orang lain lebih sempurna dan bahagia ketika melihat unggahan dari orang tersebut

  • Perfeksionisme

  • Pernah mengalami peristiwa traumatik, seperti pelecehan verbal, fisik, dan seksual, kekerasan dalam rumah tangga, atau kematian orang yang dicintai

  • Self-esteem yang rendah


Buat seseorang yang lagi mengalami gejala Duck Syndrome, ada beberapa gejala yang bakal mereka rasakaan saat diri mereka gak berhasil melawan permasalahan mereka, yaitu:


  • Selalu memaksakan diri untuk terlihat baik-baik saja dan bahagia, namun panik diam-diam

  • Merasa gagal untuk memenuhi tuntutan yang berlebihan kepada mereka

  • Merasa orang lain bernasib lebih baik dari dirinya sendiri

  • Membandingkan diri dengan orang lain

  • Merasa diamati oleh orang lain

  • Mungkin merasa susah tidur, pusing, dan sulit konsentrasi


Hidup emang gak luput dari kesedihan belive what you resist persists. Gak perlu lo mencoba menolak buat bersedih, gapapa, luapkan saja. Memang sulit, karena hakikatnya manusia akan menolak kesedihan. It’s okay not to be okay.

Belive what you resist persists. Gak perlu lo mencoba menolak buat bersedih, gapapa, luapkan saja. Memang sulit, karena hakikatnya manusia akan menolak kesedihan. It’s okay not to be okay.

Gak perlu memaksakan buat selalu senang, karena ketika lo mencoba dengan keras buat selalu senang ketika lo sedang down-downnya, semua bakal percuma. Emang gak mudah, tapi nikmati aja proses hidup lo. Suatu saat hal ini bakal jadi pembelajaran buat diri lo ketika harus menghadapi tantangan berikutnya. Saat lo berhasil melalui hal ini, diri lo bakal ngalamin yang namanya pendewasaan.

Suatu saat hal ini bakal jadi pembelajaran buat diri lo ketika harus menghadapi tantangan berikutnya. Saat lo berhasil melalui hal ini, diri lo bakal ngalamin yang namanya pendewasaan.


Writer: Carissa Setyowatie - Jumat, 25 Februari 2022